20 Negara Antre Jadi ‘Sekutu’ Rusia, RI Ternyata Ikutan

Peserta KTT Organisasi Kerjasama Shanghai, termasuk Presiden Turki Tayyip Erdogan, Presiden Kirgistan Sadyr Japarov, Presiden Kazakh Kassym-Jomart Tokayev, Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden China Xi Jinping, Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tajik Emomali Rakhmon, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, berfoto sebelum pertemuan format panjang para kepala negara anggota SCO di Samarkand, Uzbekistan 16 September 2022. (Sputnik/Sergey Bobylev/Pool via REUTERS)

Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina berbuntut perang dagang dunia. Sejumlah negara dunia saat ini dilaporkan sedang berniat untuk menjadi mitra perdagangan Rusia dalam BRICS dan juga Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

Negeri Beruang Merah tersebut dikenakan sanksi ekonomi oleh Barat dan sekutunya akibat perang di Ukraina. Ternyata, dari sejumlah negara tersebut Indonesia ikut menjadi bagian dari BRICS dan SCO.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov mengatakan negara-negara yang ingin menjadi bagian dari BRICS dan SCO memiliki peran penting di wilayah mereka. Di antaranya, kata dia, Turki, Meksiko, Indonesia, Argentina, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan sejumlah negara Afrika lainnya.

“Selama beberapa tahun terakhir, jumlah negara yang ingin bergabung dengan BRICS dan SCO meningkat pesat,” papar Lavrov dalam keterangannya, dikutip dari¬†BRICS TV, Sabtu (4/3/2023). “Sudah ada sekitar dua lusin negara.”

Diplomat itu juga mendesak wilayah Rusia untuk meningkatkan interaksi dengan organisasi-organisasi ini dan menekankan status tinggi BRICS dan SCO. Lavrov menyebutkan bahwa mereka sudah memiliki format yang ditujukan khusus untuk kerja sama antar provinsi di negara anggota.

Sebelumnya, Wakil Afrika Selatan untuk BRICS Anil Sooklal, mengatakan bahwa para anggota asosiasi kini mulai menyusun kriteria untuk perluasan kelompok tersebut. Ini diharapkan siap dalam tiga bulan ke depan.

Otoritas China mendukung perluasan blok BRICS. Beijing mencatat bahwa kerja sama yang bermanfaat di antara negara-negara anggota di bidang keuangan akan mempercepat pemulihan ekonomi domestik di negara-negara BRICS.

BRICS, yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (Afsel) merupakan aliansi yang merupakan rumah bagi lebih dari 40% populasi global dan menyumbang hampir seperempat dari produk domestik bruto dunia. Aliansi ini sendiri didirikan pada 2009.

Meski menjadi sebuah aliansi dagang, beberapa anggota BRICS memiliki sikap yang sedikit berbeda terkait serangan Rusia ke Ukraina. Meski begitu, semuanya masih belum memutuskan akses dagang dan perekonomian dengan Moskow.

Tiga anggota BRICS yakni China, Afsel, dan India telah abstain dari pemungutan suara PBB untuk mengutuk serangan Rusia ke Ukraina. Beijing dan Delhi sendiri diketahui memiliki hubungan militer yang kuat dengan Rusia dan membeli sejumlah besar minyak dan gas negara pimpinan Presiden Vladimir Putin itu.

Di sisi lain, Afsel juga menolak untuk mengutuk tindakan militer Rusia. Ini untuk untuk menjaga hubungan ekonomi yang penting.

Untuk Brasil, negara pimpinan Lula da Silva itu mendukung pemungutan suara PBB untuk mengutuk serangan Rusia ke Ukraina. Namun, Brasilia juga sempat menegaskan penerapan sanksi sembarangan terhadap Rusia tidak mengarah pada rekonstruksi dialog.

Sementara itu, SCO merupakan aliansi dagang dan pertahanan yang beranggotakan China, India, Rusia, serta beberapa kawasan Asia Tengah hingga Pegunungan Kaukasus. Organisasi ini telah memiliki beberapa jenis kerjasama internasional, salah satunya dengan Asean.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*