BCA Kini Berjaya, Dulu Pernah Dibom & Hampir Bangkrut

FILE PHOTO: Logo of Bank Central Asia Tbk (BCA) seen at BCA branch office in Jakarta, Indonesia, July 12, 2016. REUTERS/Beawiharta/File Photo

Bank Central Asia (BCA) kini tercatat sebagai bank swasta dan perusahaan terbesar di Indonesia. Nilai kapitalisasinya mencapai Rp 1034 triliun. Perusahaan yang kini berusia 66 tahun tersebut tak selamanya berada di puncak kejayaan. Pernah juga menjadi amukan massa, bahkan teroris, hingga hampir bangkrut.

Masa-masa itu terjadi pada tahun 1984. Menurut M.C Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2008), pada tahun tersebut pemerintah dan DPR mengesahkan aturan Pancasila sebagai asas tunggal. Pengesahan ini sebagai reaksi atas makin kerasnya suara kelompok Islam yang diduga akan mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Jadi, Presiden Soeharto memaksa seluruh warga negara dan organisasi tunduk kepada Pancasila.

Kebijakan ini menuai reaksi keras dari kelompok Islam. Akibatnya mereka mulai menyebar ceramah yang menentang kepemimpinan Soeharto, sekaligus juga menyuarakan anti-pemerintah dan anti-Tionghoa. Selain pemerintah, orang yang paling dirugikan dari sikap ini adalah Liem Sioe Liong atau Sudono Salim.

Salim yang merupakan kroni presiden dan memiliki banyak gurita bisnis menjadi target amukan masyarakat. BCA yang saat itu telah menjadi bank swasta terbesar di Indonesia tak luput dari ‘serangan’.

Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016) menyebut, Salim menjadi target massa karena dipandang sebagai simbol ketidakadilan. Ini disuarakan di berbagai aksi demonstrasi. Amukan ini mencapai puncak pada 4 Oktober 1984.

Kala itu terjadi ledakan bom berkekuatan rendah di 2 kantor cabang BCA, yakni cabang Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat dan cabang Sudirman, Jakarta Selatan. Tercatat dua orang tewas dan puluhan lainnya terluka. Pelaku utamanya adalah beberapa tokoh dari organisasi Islam bernama Gerakan Pemuda Ka’bah.

Peristiwa tersebut menjadi shock therapy bagi Salim. Disinilah dia sadar kalau tak disukai banyak orang. Tahun tersebut adalah masa krisis pertama BCA setelah 27 tahun berdiri.

Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Grup (2016) menuturkan pasca kejadian bom tersebut ditambah dengan besarnya ketidaksukaan publik terhadap BCA, pertumbuhan bank tersebut mandek. Aset hanya tumbuh 20% menjadi Rp 465 miliar pada tahun 1984. Ini berbeda dibanding tahun sebelumnya yang berkisar 60%.

Namun, pukulan ini hanya terjadi sebentar. Setelah Soeharto meredam gerakan Islam, Salim dan BCA kembali melesat cepat.

Hingga akhirnya, BCA lagi-lagi mengalami krisis hebat nyaris bangkrut ketika krisis ekonomi 1998. Krisis yang menggoyahkan kekuasaan Soeharto juga berdampak pada posisi Salim.

Darah masyarakat mendidih kepada keduanya yang dipandang sebagai simbol ketidakadilan. Alhasil, para nasabah BCA menarik dana secara massal dan besar-besaran. Ratusan orang tiap harinya rela antre berjam-jam untuk menguras seluruh tabungannya. Situasi ini menjadi pukulan telak bagi keuangan BCA karena bisa dibilang tak lagi mendapat kepercayaan masyarakat.

Puncaknya terjadi pada Mei 1998. Seminggu setelah Soeharto lengser, tepat pada 28 Mei 1998, BCA yang kala itu dimiliki Salim Group diambil alih oleh pemerintah karena kondisi keuangannya semakin berdarah-darah tak tertolong. Pemerintah lewat Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) resmi menjadikan BCA sebagai BTO (Bank Taken Over). Pengambilalihan ini bertujuan untuk menolong BCA agar tidak jatuh terlalu dalam. Sebab, jika bank swasta terbesar itu bangkrut, kondisi akan makin sulit.

Setelah kasus tersebut, BCA dimiliki oleh perusahaan investasi, Farallon, yang bermitra dengan keluarga Hartono pemilik Djarum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*