Demi Bibit Unggul, Wanita Eropa Serbu Bank Sperma Negara Ini

Orang-orang berkerumun di depan Rumors di Noerregade di Kopenhagen, Denmark (AP PHOTO/RITZAU SCANPIX/Olafur Steinar Gestsson)

Sebagian orang tua memiliki keinginan agar rupa anaknya selaras dengan apa yang diinginkan. Fenomena ini pun merambah hingga Eropa, di mana para wanita yang tidak menikah mencari bank sperma yang dirasa dapat mewujudkan impiannya menjadi ibu dengan anak yang sesuai dengan keinginan.

Mengutip laporanĀ Euronews, banyak wanita di Benua Biru memilih untuk mengambil sperma di bank sperma Denmark. Ini disebabkan banyaknya pilihan sperma yang dapat sesuai dengan keinginan rupa anaknya kelak.

Salah satunya adalah Kim. Wanita 37 tahun asal Belanda itu memutuskan pada Juni 2020 sudah waktunya untuk mulai serius mencari untuk memuaskan keinginannya agar menjadi seorang ibu.

“Sedangkan bank sperma Belanda hanya memungkinkan Anda untuk memilih empat ciri eksternal, yaitu warna rambut dan mata, etnis dan postur tubuh, bank sperma Denmark memberi Anda profil yang jauh lebih luas, termasuk gambar bayi, tulisan tangan, dan suara,” katanya dikutipĀ Euronews, Senin (3/4/2023).

“Saya ingin anak saya dapat menelusuri kembali asal-usulnya dan merangsang potensi keingintahuan akan latar belakang biologisnya.”

Setelah proses pengambilan keputusan yang menyeluruh, Kim akhirnya memilih donor sperma dengan keturunan Portugis yang dia temukan di database Cryos International.

Ia membuat pesanan pada Selasa dan klinik kesuburannya menelepon pada Kamis untuk memberitahu dirinya bahwa tiga sedotan sperma beku telah tiba. Saat inseminasi, ia pun langsung dinyatakan hamil.

Dua bank sperma Denmark terbesar adalah Cryos International dan Bank Sperma Eropa. Cryos mengklaim memiliki lebih dari 1.000 donor yang tersedia dan Bank Sperma Eropa mengatakan mempunyai antara 800 hingga 900 donor yang siap dipilih oleh penerima.

Popularitas mereka sebagian dapat dikaitkan dengan beragamnya palet fenotipe untuk dipilih. Pasokan mereka sangat luas dan beragam karena kedua perusahaan telah membuka cabang di bagian lain Eropa seperti Siprus, Inggris, Jerman, dan Belanda.

Sementara itu, Denmark sendiri merupakan negara yang sangat terbuka dengan adanya donor sperma. Ini disebabkan langkah negara itu pada 2006 lalu yang memberi ruang bagi wanita lajang dan lesbian untuk diinseminasi dengan sperma donor.

Menurut Annemette Arndal-Lauritzen, CEO Bank Sperma Eropa, hal ini tidak hanya membuka perbincangan tentang donasi sperma, tetapi juga menggerakkan gelombang anak donor Denmark yang baru lahir.

“Saat ini, lebih dari satu persen dari semua anak yang lahir di Denmark lahir dengan sperma donor. Itu adalah persentase tertinggi dari negara Eropa mana pun. Fakta bahwa begitu banyak anak di Denmark lahir dari donasi benar-benar menghilangkan tabu di negara kami,” katanya.

Selain itu, Denmark juga mengizinkan bank sperma untuk beriklan secara bebas di antara pria Denmark. Orang Denmark yang lebih muda, misalnya, ditargetkan melalui iklan Instagram atau Youtube.

“Kami berinvestasi cukup banyak dalam merekrut donatur,” kata Lassen. “Kami mencoba mengedukasi mereka dengan menjelaskan pro dan kontra dari donasi, dan apa artinya bagi orang lain.”

Sebagai imbalan untuk setiap donasi sperma, pendonor menerima bayaran dan langganan kebugaran. Penghargaan finansial ini sangat disambut baik oleh kelompok masyarakat mudia seperti mahasiswa.

“Saya menerima 40 euro (Rp 650 ribu) per donasi dan saya menyumbang sekitar dua kali seminggu. Bagi saya ini sama-sama menguntungkan: saya tidak perlu pekerjaan sampingan dan saya membantu orang lain mendapatkan anak,” kata seorang mahasiswa bernama Lasse Haldrup.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*