Gawat Pak Jokowi! Ada 2 Lebaran, Ekonomi Malah Diramal Turun

Gawat Pak Jokowi! Ada 2 Lebaran, Ekonomi Malah Diramal Turun

Suasana pengunjung saat berbelanja di Blok B, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (3/5/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Lonjakan konsumsi selama perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha diperkirakan tidak akan cukup mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2023.

Konsensus pasar yang dihimpun https://pejuangkas138.store/ CNBC Indonesia dari 11 institusi juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,98% (year on year/yoy) dan 3,74% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).
Bila ramalan tersebut menjadi kenyataan maka ekonomi Indonesia akan tumbuh dalam fase terendah sejak kuartal III -2021 atau dalam enam kuartal terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2023 pada Senin (7/8/2023). Sebagai catatan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,03 (yoy) pada kuartal I-2023 dan terkontraksi 0,92% (qtq).

Polling CNBC Indonesia juga jauh dibawah proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 5%. Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksi ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5,1% pada periode April-Juni 2023.

Ekonom yang disurvei menjelaskan jika ekonomi Indonesia masih akan ditopang oleh konsumsi masyarakat,
Adanya dua hari raya besar pada kuartal II-2023 serta liburan panjang diyakini akan mendongkrak ekonomi Indonesia.

Sebagai catatan, momen Ramadan tahun ini jatuh pada Kuartal I (Maret) sementara Lebaran Idul Fitri pada kuartal II (April).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Hari Raya Idul Adha juga jatuh pada kuartal II (akhir Juni).
Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan memberikan cuti panjang untuk Idul Fitri dan Idul Adha demi menggerakan konsum simasyarakat.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan konsumsi masyarakat akan meningkat 4,77% (yoy). Artinya, konsumsi akan sedikit membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 4,54%.
Konsumsi masyarakat sudah tumbuh di bawah 5% dalam dua kuartal terakhir atau di bawah level historisnya yakni 5%.Konsumsi juga diperkirakan akan meningkat karena melandainya inflasi.

“Konsumsi masyarakat cenderung solid mempertimbangkan konsumsi yang bertepatan dengan Ramadhan dan Idul Fitri yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal lainnya sepanjang tahun,” tutur Josua kepada CNBC Indonesia.

Perbaikan konsumsi tercermin dari penjualan motor yang mencapai 1,38 juta pada kuartal II-2023. Jumlah ini melonjak 40% dibandingkan kuartal II-2022.
Penjualan eceran pada akhir kuartal II-2023 juga tercatat tumbuh 8,0%yoy.

Data Mandiri Spending Index juga menunjukkan frekuensi belanja masyarakat tercatat 349 pada Juni 2023, tertinggi sejak awal pandemi.
Sementara itu, nilai belanja masyarakat yang sempat anjlok pada Mei 2023 mulai naik kembali hingga mencapai 158,9 pada Juni.

Di sisi lain, libur sekolah dan dua kali libur panjang di Juni mendorong kenaikan belanja Juni. Belanja Leisures seperti hobbies dan hotel meningkat pesat..
Data tersebut juga mengungkap proporsi belanja fashion juga naik drastis menjadi 9,3% pada Juni dari 8,6% pada Mei.

Bila konsumsi masyarakat diproyeksi masih tumbuh tinggi maka tidak demikian dengan investasi dan impor. Impor terkoreksi 28,3% pada April-Juni 2023 menjadi US$ 53,78 miliar.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memang menunjukkan realisasi investasi masih tumbung kencang.
Total investasi yang masuk pada pada kuartal II-2023 tercatat Rp 349,8 triliun, tumbuh 15,7% dibandingkan capaian periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Namun, investasi yang dicatat BKPM belum dalam bentuk realisasi aset seperti kantor dan lain-lain sehingga kemungkinan akan berbeda dengan catatan BPS.
Belanja negara juga menurun 2,02% pada April-Juni 2023 menjadi Rp 738 triliun. Turunnya belanja bisa berdampak kepada daya gedor ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*