Gegara Tolak Israel, RI Dikucilkan & Bikin Acara Sendiri

Puluhan ribu nasionalis ikut dalam Pawai Bendera Israel pada Minggu (29/5) yang dianggap warga Palestina sebagai provokasi dan berpotensi memicu ketegangan. (AFP via Getty Images/GIL COHEN-MAGEN)

Rabu malam (29/3/2023) FIFA resmi mencoret Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 pada Mei mendatang. Keputusan ini keluar usai muncul polemik di dalam negeri terkait kedatangan Timnas Israel ke Indonesia.

Penolakan Israel oleh sebagian orang didasarkan karena mereka menganggap Negara Yahudi itu adalah penjajah. Jadi, tak pantas masuk ke Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina.

Sikap seperti ini, mencampur olahraga dan politik, sebetulnya bukan yang pertama, dan pernah dilakukan Indonesia 59 tahun lalu, tepatnya pada 1964.

Cerita bermula ketika dua tahun sebelumnya, pada 1962, Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah Asian Games di tahun yang sama. Dalam hajatan olahraga se-Asia itu, seluruh negara di Asia hadir. Namun, Presiden Sukarno tidak memberi izin Israel dan Taiwan untuk datang ke Indonesia.

Alasannya sederhana. Israel adalah penjajah tanah Palestina. Sedangkan Taiwan eksistensinya tidak diakui karena Indonesia berpedoman pada “One China Policy.”

Sikap ini kemudian dipandang serius oleh International Olympic Commitee (IOC). Mereka menganggap Indonesia telah salah langkah: memasukkan politik dalam olahraga. Negara tuan rumah semestinya netral.

Alhasil, perhelatan Asian Games 1962 di Jakarta berlangsung tanpa kehadiran Israel dan Taiwan. Meski acara sukses, setelahnya datang masalah bertubi-tubi. Indonesia sudah dianggap memiliki preseden buruk sebagai tuan rumah acara olahraga. IOC menganggap Indonesia kurang ajar.

Mengutip Muhidin M. Dahlan dalam Ganefo: Olimpiade Kiri Indonesia (2019), pada 7 Februari 1963 IOC memberi putusan keras: Indonesia dilarang tampil di ajang Olimpade. Alasannya karena memasukkan politik ke acara olahraga.

Meski begitu, IOC memberi satu syarat supaya Indonesia bisa tampil, yakni berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Sukarno yang tak mau didikte bangsa Barat jelas marah. Darahnya mendidih. Indonesia tak ikut Olimpiade 1964 di Tokyo.

Tak perlu waktu lama, presiden pertama itu akhirnya memutuskan Indonesia resmi keluar dari IOC. Setelahnya Sukarno mendirikan perhelatan tandingan bernama Games of The New Emerging Force (Ganefo).

George Modelski dalam The New Emerging Forces (1963) mencatat lima hari setelah Indonesia ditolak IOC, Sukarno mendeklarasikan Ganefo yang diselenggarakan pada November 1963

Tercatat ada 12 negara yang berpartisipasi, antara lain Indonesia, Irak, Pakistan, Mali, Vietnam Utara, Mesir dan Suriah (Republik Arab Bersatu), Uni Soviet, Kamboja, Sri Lanka, dan Yugoslavia.

Mengutip Ganefo Sebagai Wahana dalam Mewujudkan Konsepsi Politik Luar Negeri Soekarno 1963-1967 (2013), alasan Sukarno membuat Ganefo sebetulnya didasari oleh rasa ketidakadilan. Bagi Sukarno, IOC sendiri tidak adil karena kerap mengucilkan China dan beberapa negara Arab.

Jadi, menurut Sukarno, rasanya aneh kalau IOC menganggap Indonesia memasukkan unsur politik dalam olahraga. Toh dia sendiri pun bersikap demikian.

Saat pelaksanaan Ganefo pada 10-22 November 1963 berjalan sukses. Mata dunia tersorot pada Indonesia dan Sukarno. Akibat keberhasilan ini membuat animo negara tertindas di Asia dan Afrika lain meningkat. Mereka segera mendaftar jadi bagian Ganefo.

Bahkan, tercatat Ganefo dilaksanakan dua kali, yakni di Kamboja pada 1966. Kesuksesan Ganefo yang dirintis Indonesia sebetulnya lebih dari sekedar balas dendam. Acara itu bertujuan untuk menunjukkan solidaritas dan kekuatan negara-negara tertindas. Bahwa mereka tidak bisa diatur oleh negara Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*