Ironis! Pagi Berjaya, IHSG Malah Ditutup Lesu

Presiden Joko Widodo resmi menutup perdagangan bursa tahun 2017 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (29/12/2017). Perdagangan bursa ditutup menguat pada angka 6,355

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Senin (6/3/23) berakhir di 6.807 atau terkoreksi 0,10% secara harian.

Sebanyak 312 saham melemah, 206 saham mengalami kenaikan dan 215 lainnya mendatar. Perdagangan menunjukkan nilai transaksi sekitar Rp 7,9 triliun dengan melibatkan 15,43 miliar saham.

Hari ini IHSG dibuka bergairah namun berbalik arah hingga ditutup di wilayah merah. Artinya pelemahan kali ini sekaligus melanjutkan tren pelemahan perdagangan sebelumnya.

Dalam lima hari perdagangan, gap koreksi melebar menjadi 0,70%. Dengan begitu, IHSG kembali menorehkan kinerja negatif mingguan. Sejak awal tahun, IHSG masih membukukan pelemahan 0,64% (year to date).

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia via Refinitiv, empat dari total sektor melemah. Sektor energi menjadi sektor yang paling merugikan indeks dengan penurunan 1,35%. Sebaliknya, sektor konsumen non-primer terpantau menjadi penahan koreksi paling besar menguat 0,86%.

Mayoritas saham-saham energi tercatat membukukan kinerja negatif. Bumi Resources tenggelam 3,76%, Adaro Energy jatuh 3,64% sementara Borneo Olah Sarana merosot 3,17%. Berikutnya Indika Energy melorot 2,55% pun Baramulti Suksessarana turun 1,44% dan lainnya.

Perdagangan kali ini, IHSG dibebani paling berat oleh Bank Central Asia sebesar 5,32 indeks poin disusul Adaro Energy 3,65 indeks. Selain itu, Bayan Resources membebani 2,89 indeks poin dan Telkom Indonesia berkontribusi 2,42 indeks poin.

Sentimen pasar utama masih diselimuti oleh implikasi pengumuman beberapa data ekonomi, di antaranya ketegangan antara suku bunga dan harga saham karena investor mencerna indikasi sikap The Fed yang masih hawkish beberapa bulan ke depan.

Investor juga harus memperhatikan kondisi ekonomi China dan AS yang merupakan partner dagang utama Indonesia.

Meskipun China tumbuh lambat pada 2020, ekonominya mampu ‘mengaum’ dan mencatatkan peningkatan tajam selama 2 bulan beruntun, yang mengisyaratkan bahwa ekonomi China akan bangkit lebih cepat dari yang diperkirakan setelah sempat terseret akibat pembatasan ketat Covid-19.

Sementara itu, AS memiliki data ekonomi yang masih menunjukkan kekuatan, namun kabar baik ini menjadi kabar buruk di masa akan datang karena akan mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut dan menjaganya tetap tinggi demi meredam inflasi.

Pekan ini juga akan ada rilis data ekonomi penting dari dalam negeri dan luar negeri yang dapat mempengaruhi sentimen pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*