Krisis Bank AS, Mantan Bos SVB Mengaku Salah

Silicon Valley Bank

Mantan bos bank gagal Silicon Valley Bank (SVB) Greg Becker akan bersaksi di sidang di komite perbankan Senat Amerika Serikat (AS) pada Selasa (16/5/2023) waktu setempat. Becker akan menyampaikan pihaknya telah lengah atas pesan Federal Reserve atau disebut The Fed (bank sentral-nya AS) tentang suku bunga.

“The Fed telah memberikan sinyal sepanjang tahun 2021 bahwa inflasi mulai menggelembung dan suku bunga rendah hanya akan bersifat sementara,” kata Becker dalam kesaksian yang https://evolutionoforganic.com/ disiapkan secara tertulis untuk sidang tersebut, dikutip dari Wall Street Journal, Selasa (16/5/2023).

“Terlepas dari pesan ini, di awal tahun 2022, Federal Reserve memulai serangkaian kenaikan suku bunga yang pada akhirnya akan menjadi kenaikan suku bunga paling tajam selama periode 12 bulan dalam hampir 40 tahun,” katanya.

Pejabat Fed sebagian besar menyalahkan kegagalan bank yang berbasis di California itu pada manajemen perusahaan, dengan mengatakan bahwa mereka gagal mengelola risiko suku bunga dan likuiditas bank secara efektif, dan perusahaan kemudian mengalami kehancuran seiring dengan rush money yang tidak terduga.

Wakil Ketua Fed untuk pengawasan, Michael Barr menilai kegagalan SVB akibat kegagalan manajemen.

Barr juga akan menyampaikan bahwa regulator pantas disalahkan atas kegagalan SVB. Pengawas bank sentral tidak sepenuhnya mencermati tingkat kerentanan karena SVB tumbuh dalam ukuran dan kompleksitas yang cukup tinggi.

Lalu ketika pengawas memang mengidentifikasi masalah, mereka tidak mengambil langkah yang memadai untuk memastikan bahwa SVB akan memperbaikinya dengan cukup cepat.

“Kita perlu memastikan bahwa kita memiliki budaya yang memberdayakan pengawas untuk bertindak dalam menghadapi ketidakpastian,” katanya dalam kesaksian yang telah disiapkan.

Sementara itu, kedua mantan eksekutif Signature Bank yang juga akan bersaksi pada sidang yang sama, akan menyampaikan bahwa mereka yakin regulator bertindak terlalu cepat untuk menyita bank yang berbasis di New York itu pada 12 Maret lalu,

Meskipun nasabah melakukan penarikan dana simpanan besar-besaran (rush money) pada 10 Maret saat regulator mengambil alih SVB, Signature dinilai memiliki permodalan yang baik.

Sebagai informasi, dalam beberapa jam setelah SVB disita, nasabah Signature Bank menarik $16 miliar atau setara Rp236,52 triliun.

“Meskipun saya percaya bahwa bank berada dalam posisi yang kuat untuk menghadapi badai, regulator tampaknya melihat hal yang berbeda,” kata mantan President Signature Eric Howell dalam kesaksian yang sudah disiapkan.

 

Dalam perkembangan lain, bank-bank di AS telah terkena imbas krisis perbankan baru-baru ini, karena beberapa deposan pindah ke bank jumbo.

Mereka beranggapan bank besar, bila bermasalah, akan diselamatkan oleh pemerintah. Alhaslil harga saham bank menengah dan kecil terpukul parah.

Pejabat di seluruh Washington mengatakan sistem perbankan Negeri Paman Sam aman dan telah membuka serangkaian penyelidikan terhadap bank gagal dan lembaga yang mengawasinya.

Komite Jasa Keuangan Senat akan secara terpisah pada hari Selasa menekan pejabat dari Fed, AS Federal Deposit Insurance Corp (FDIC), National Credit Union Administration, dan Office of the Comptroller of the Currency.

“Industri perbankan telah terbukti cukup tangguh selama periode tekanan ini,” kata Ketua FDIC Martin Gruenberg.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*