NIM Perbankan RI Super Tinggi, Kredit Macet Apa Kabar?

Mirza Adityaswara dalam Konferensi Pers Anggota Dewan Komisioner OJK, Rabu (20/7/2022). (Tangkapan layar youtube Jasa Keuangan

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) perbankan tertinggi di dunia.

Secara sederhana, NIM digunakan untuk mengukur perbedaan antara pendapatan bunga yang diterima bank dan bunga yang dibayarkan ke peminjam.

NIM dipakai untuk menakar tingkat profitabilitas bank. Umumnya, NIM yang lebar mengindikasikan laba yang tinggi untuk bank.

Mengacu pada data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), NIM perbankan Tanah Air di akhir 2022 mencapai 4,68%.

Dengan angka 4,68%, NIM perbankan RI sebenarnya berada di peringkat kedua di antara negara ASEAN lainnya, hanya kalah dari Kamboja yang berada di posisi pertama dengan NIM 5,35%. Sementara itu, Filipina di posisi ketiga dengan NIM 3,56%. Sementara, NIM bank Singapura tergolong mini, yakni sebesar 1,21%.

Karenanya, tak berlebihan apabila Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI akhir Januari lalu mengatakan, “NIM perbankan di Indonesia ini dianggap tertinggi di dunia dan di akhirat.”

Penyebab NIM Besar

Secara garis besar, terdapat beberapa faktor turut membentuk NIM bank, mulai faktor internal (manajemen), hingga faktor eksternal seperti iklim industri (konsentrasi pasar) dan faktor makro (misal, tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi).

NIM perbankan RI yang lebih tinggi dibandingkan negara lainnya bisa disebabkan oleh kondisi pasar yang kurang efisien dan kurang kompetitif.

Wakil Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang membuat biaya operasional bank di Indonesia tinggi adalah pencadangan atau provisi untuk non performing loan (NPL) alias kredit macet yang besar. Sementara alasan lainnya adalah kebutuhan biaya terkait sumber daya manusia, operasional dan pembukaan cabang serta kantor pusat yang juga tinggi.

“Operational cost-nya sangat tinggi sekali. Jadi yang harus kita pahami dari bank bukan hanya NIM tinggi saja, tapi biaya operasionalnya memang tinggi,” ungkap Wakil Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara, dalam acara FGD OJK, di Balikpapan, (3/3/2023).

Kredit Macet RI

Menurut Mirza, jika mengacu negara-negara seperti Singapura dan Hong Kong, angka NPL rata-rata perbankan di sana itu di kisaran 1%. Meskipun, secara wilayah agak berbeda dengan Indonesia, yang merupakan negara kepulauan.

“Kalau kita lihat, di Indonesia NPL perbankan itu kan normalnya di 3% – 5%. Sehingga biaya provisi yang harus disiapkan oleh bank juga kurang lebih sebesar itu. Andai saja NPL tersebut kita bisa turunkan menjadi 1% atau 2% misalnya, tentunya akan mengurangi biaya operasional mereka,” lanjut Mirza.

Mengutip data IMF Financial Soundness Indicator (FSI), hingga akhir 2021 kredit macet RI angka kredit macet RI tercatat 2,64%. Angka tersebut berada di tengah-tengah atau peringkat keempat dari delapan negara ASEAN yang datanya tersedia. Meski demikian, dalam sepuluh tahun terakhir angka kredit macet RI malah menunjukkan tren kenaikan – dialami juga oleh Thailand dan Filipina, dengan sejumlah negara lain angkanya tercatat turun atau stagnan.

Secara global, di antara negara yang tergabung dalam G-20, kredit macet RI berada di peringkat ketujuh atau lebih baik dari empat negara pasar berkembang (emerging market) dan dua negara maju.

Median angka kredit macet negara G-20 untuk tahun 2021 tercatat sebesar 1,97%, dengan enam negara maju termasuk AS, Inggris dan Korea Selatan memiliki angka kredit macet dibawah 1%.

Mirza juga mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk menekan angka kredit macet di RI adalah dengan memberikan informasi kredit yang lebih baik kepada para nasabah. Diharapkan setelah peminjam benar-benar paham dengan fasilitas yang ditawarkan angka kredit bermasalah dapat ditekan.

“Nah salah satu cara untuk mengurangi kredit bermasalah adalah dengan informasi kredit yang lebih baik. Misalnya dengan memanfaatkan lembaga biro kredit, hal ini tentu akan membuat kredit bank lebih baik,” tegas Mirza.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*