RI Angkat Isu Rupiah Digital & Mobil Listrik di Asean Summit

Anggota Dewan Komisioner OJK, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Pada tahun ini, Indonesia dipercaya sebagai Ketua ASEAN. Sederet isu akan diangkat dalam pertemuan tersebut, mulai dari pemulihan, digitalisasi hingga keberlanjutan ekonomi dalam jangka menengah panjang.

Hal ini disampaikan Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) saat temu media di Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, pada akhir pekan lalu.

“Kita mengangkat tiga prioritas ekonomi dalam pertemuan ASEAN pada tahun ini yang penting terutama menghadapi perubahan global. Adalah pemulihan ekonomi, digital ekonomi dan mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Dody menjelaskan, ada beberapa faktor munculnya isu strategis tersebut. Antara lain, pandemi covid-19 yang hampir selesai akan tetapi meninggalkan luka memar yang cukup dalam, terutama dari sisi fiskal dan sektor keuangan.

Faktor selanjutnya adalah perang Rusia dan Ukraina yang tidak diketahui kapan berakhir, padahal sudah berlangsung lebih dari setahun. Perang tersebut memicu terjadinya krisis pangan dan energi di dunia. Dampaknya adalah lonjakan inflasi dunia.

Negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa serta Inggris langsung mengubah arah kebijakan moneter dalam situasi tersebut. Suku bunga acuan yang tadinya rendah dikerek naik dalam waktu yang singkat, sehingga menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

ASEAN, kata Dody berada dalam kondisi yang cukup baik. Ada beberapa negara yang alami tekanan berat, terutama negara dengan kondisi fiskal yang buruk dan ketergantungan akan global sangat tinggi.

“BI diskusikan dengan Bank Sentral lain bagaimana kebijakan ke depan. Konteksnya sama, inflasi kita tekan, jadi momentum recovery diutamakan dan stabilitas,” jelasnya.

Langkah yang ditempuh dalam pemulihan ekonomi, salah satunya melalui akselerasi ekonomi digital. BI akan mempercepat implementasi sistem pembayaran secara regional.

“Jangka pendek kita gunakan QRIS antar negara. RI dan Thailand sudah bisa gunakan QRIS. Dalam waktu dekat Singapura, Malaysia, dan Filipina,” terang Dody.

Central Bank Digital Currency (CBDC)juga akan menjadi pembahasan. Indonesia sudah lebih dulu mengeluarkan makalah, diikuti oleh Singapura dan Filipina. Poin pembahasan nantinya akan diarahkan pada dampak secara makro ekonomi, inflasi, rupiah hingga moneter

“CBDC akan membentuk sistem moneter yang baru,” imbuhnya.

Prioritas selanjutnya adalah ekonomi keberlanjutan. Menurut Dody, secara spesifik Indonesia akan mengangkat penciptaan ekosistem kendaraan berbasis listrik. ASEAN, khususnya Indonesia kaya akan sumber daya alam (SDA) di sektor tersebut.

“RI akan bawa masalah hilirisasi,” tegas Dody.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*